Lampung, buanainformasi.tv - Kejadian penembakan yang melibatkan tiga oknum polisi oleh anggota TNI di Lampung telah mengguncang seluruh masyarakat Indonesia, dengan berita ini langsung viral dan menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Banyak publik figur, selebriti, dan anggota dewan yang cepat bersuara melalui media sosial, mengutuk tindakan brutal yang mereka nilai dilakukan oleh anggota TNI, seakan polisi adalah korban tanpa melihat fakta yang lebih dalam. Namun, kebenaran yang jauh lebih kompleks sedang terungkap, dan justru masyarakat lokal melihat kejadian ini sangat berbeda dari apa yang terlihat di luar sana. Selasa,18/3/2025.
Bagi warga sekitar lokasi kejadian, anggota TNI yang terlibat dalam penembakan tersebut justru dipandang sebagai pahlawan. Sementara itu, oknum polisi yang terlibat, terutama yang selama ini dikenal dengan nama samaran Bejo, dianggap sebagai sosok yang telah meresahkan masyarakat dengan praktik pemerasannya yang sudah berlangsung lama.
Warga Setempat Merasa Terintimidasi oleh Polisi
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari warga setempat, praktik pemerasan yang dilakukan oleh oknum polisi sangat mengganggu ketenangan hidup mereka. Salah satu kasus yang mencuat beberapa hari sebelum insiden penembakan adalah pemerasan terhadap seorang pedagang minyak eceran yang digerebek oleh oknum polisi. Pedagang yang membawa tiga jerigen pertalite ini diminta untuk membayar uang damai sebesar 40 juta rupiah agar tidak diproses hukum.
Setelah negosiasi panjang, pedagang tersebut terpaksa menyetujui kesepakatan untuk membayar 25 juta rupiah. Pedagang yang tidak mampu memenuhi permintaan tersebut bahkan terpaksa menjual motornya dan meminjam uang dari teman-temannya untuk menutupi uang damai yang diminta. Ini adalah satu dari sekian banyak contoh pemerasan yang dilakukan oleh oknum polisi, di mana warga setempat merasa diperas setiap bulan dengan setoran rutin yang bisa mencapai 1,5 hingga 3 juta rupiah.
Korupsi Sistemik di Kepolisian yang Terungkap
Bukan hanya pemerasan terhadap pedagang eceran, oknum polisi ini juga diduga melakukan pemerasan terhadap warga setempat dengan meminta uang tambahan untuk kebutuhan pribadi mereka, seperti bahan bakar, rokok, dan uang pribadi lainnya yang bisa mencapai 2,5 juta rupiah per hari. Oknum polisi Bejo yang selama ini memimpin pemerasan di daerah tersebut bahkan meminta kenaikan setoran menjadi 20 juta rupiah per minggu, yang tentu saja tidak dapat dipenuhi oleh warga. Pemerasan ini sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka, hingga akhirnya menimbulkan ketegangan yang memuncak.
Insiden penembakan yang melibatkan anggota TNI yang terjadi pada saat itu ternyata merupakan dampak dari ketegangan antara aparat keamanan dan masyarakat. Polisi yang melakukan penggerebekan di lapak sabung ayam, yang merupakan sebuah usaha untuk mencari uang tambahan menjelang Lebaran, berakhir dengan bentrokan yang fatal. Seorang anggota TNI yang terlibat dalam kejadian tersebut merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk bertindak, karena sebelumnya, polisi tidak pernah terlibat langsung dengan tindakan kriminal yang dilakukan oleh anggota TNI. Namun, bagi masyarakat setempat, mereka merasa bahwa ini adalah bentuk pembelaan terhadap mereka yang selama ini terzolimi oleh praktik pemerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.
TNI Menjadi Pahlawan Bagi Warga, Polisi Justru Menjadi Penindas
Bagi banyak warga setempat, terutama yang telah lama merasakan kerasnya pemerasan yang dilakukan oleh oknum polisi, insiden penembakan ini justru dianggap sebagai bentuk keadilan yang terlambat. Anggota TNI yang terlibat dalam insiden tersebut, meskipun tidak bisa dibenarkan dalam segi kekerasannya, justru dianggap sebagai pahlawan yang berani melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.
Di sisi lain, oknum polisi, yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga ketertiban, justru menjadi penindas yang meresahkan kehidupan warga dengan praktik pemerasan yang terus berlangsung. Banyak yang menganggap bahwa penembakan ini adalah hukum sebab-akibat dari tindakan kesewenang-wenangan polisi yang sudah sangat merugikan masyarakat.
Masyarakat Tidak Terkesima dengan Media Sosial yang Menyudutkan TNI
Kisah penembakan ini sangat viral di media sosial, dengan banyak tokoh publik dan selebriti yang mengecam tindakan anggota TNI yang dianggap brutal. Namun, bagi masyarakat setempat yang merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup di bawah tekanan dan pemerasan, pandangan mereka jauh berbeda. Mereka melihat anggota TNI sebagai sosok yang berani melawan ketidakadilan dan penindasan yang sudah berlangsung terlalu lama.
Mereka menyayangkan bahwa media sosial lebih banyak memperlihatkan sisi satu arah yang menyudutkan TNI tanpa memahami situasi dan latar belakang kejadian yang sebenarnya. Masyarakat setempat pun berharap agar media bisa lebih objektif dalam memberitakan kejadian ini, dengan mempertimbangkan fakta yang ada dan suara mereka sebagai warga yang selama ini menjadi korban dari pemerasan oleh aparat kepolisian.
Harapan untuk Perubahan dan Keadilan yang Lebih Baik
Keluarga korban dan warga setempat berharap agar kejadian ini dapat menjadi titik balik bagi reformasi dalam sistem hukum Indonesia. Mereka mendesak agar oknum polisi yang terlibat dalam praktik pemerasan ini segera diusut tuntas dan dihukum setimpal dengan perbuatannya. Masyarakat juga mengharapkan adanya perubahan dalam penegakan hukum di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang lagi, dan agar rakyat bisa hidup dengan aman tanpa harus takut terhadap aparat yang seharusnya melindungi mereka.
Sebagai warga negara yang tertindas, mereka berharap agar hukum di Indonesia lebih berpihak pada rakyat, dan bukan pada mereka yang menyalahgunakan kekuasaannya. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh aparat penegak hukum di Indonesia, bahwa tugas mereka adalah untuk melayani dan melindungi rakyat, bukan untuk memperkaya diri melalui tindakan yang merugikan dan menindas. (red/wpol)