breaking news Baru

Menaker Sebut Link & Match Jadi Solusi Kurangi Kesenjangan Pasar Kerja

Nasional, Buana Informasi TV - Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziyah mengungkapkan 1,8 juta lulusan SMA/SMK/MA setiap tahunnya tidak tertampung di perguruan tinggi dan terpaksa masuk ke pasar kerja. Namun, masih ada tantangan ketenagakerjaan di Indonesia berupa kesenjangan antara sisi supply dan demand pasar tenaga kerja.


Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IX DPR, di Gedung Nusantara I DPR RI pada Selasa (14/11).
"Rendahnya digital skill menjadi tantangan untuk memenuhi kebutuhan industri di masa mendatang," kata Ida dalam keterangan tertulis, Rabu (15/11/2023).


Ia mengungkapkan di masa mendatang pola permintaan terhadap tenaga kerja akan lebih banyak menitikberatkan pada pekerjaan yang bersentuhan dengan pemanfaatan teknologi digital. Selain itu, soft skill seperti kemampuan analitis, orientasi pemecahan masalah, kreativitas, dan komunikasi juga menjadi hal penting yang sangat diperlukan.


"Namun demikian, keterampilan digital yang dimiliki tenaga kerja Indonesia masih bersifat teoritis dan umum, sehingga terjadi kesenjangan di sisi supply dan demand," paparnya.
Untuk mengurangi kesenjangan pasar kerja, lanjut Ida, pihaknya telah membuat kebijakan link and match.

Kebijakan ini membangun integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan tenaga kerja yang terpadu.
Adapun kebijakan link and match ini meliputi pengembangan sistem integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan; Penguatan kelembagaan dan pengembangan ekosistem pasar kerja; Pengembangan pasar kerja inklusif; Penguatan SDM pelatihan, sertifikasi, dan penempatan dalam melakukan integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan; Penguatan norma, standar, dan prosedur yang mendukung integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan; Digitalisasi pelayanan pasar kerja; dan Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan stakeholder.(**/red)