breaking news Baru

Harga PCR Turun Jadi Rp300 Ribu Masih Tergolong Mahal Dibanding India, Ini Alasannya

Jakarta, Buanainformasi.tv - Presiden RI Joko Widodo menginstruksikan penurunan harga tes PCR menjadi Rp 300.000 dari sebelumnya di kisaran Rp 450.000. Namun, harga tes PCR ini nyatanya belum mampu menyaingi India, yang hanya Rp 160.000.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengisyaratkan, harga PCR di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan harga PCR di India. Pasalnya, ada beberapa hal di India yang membuat harga PCR lebih murah. Hal ini tidak dimiliki Indonesia. Murahnya harga PCR di India juga disebabkan karena beberapa harga komoditas di sana lebih murah karena tingginya jumlah penduduk.

Di sisi lain, murahnya harga tes PCR di India juga sedikit banyak dikaitkan dengan produksi dalam negeri. India sudah memiliki produksi tes PCR di dalam negeri. Hal ini berbeda dengan negara lain yang masih mengimpor alat tes kesehatan termasuk PCR. Menkes menyatakan harga PCR di Indonesia sudah sangat murah dibanding negara lain. Harganya yang semula Rp 900.000 saja berada di tingkat 25 persen paling murah di dunia.

Jika PCR kembali turun Rp 300.000 sesuai arahan Jokowi, maka harga PCR tersebut masuk dalam kategori 10 persen yang paling murah di seluruh bandara di dunia. Sebelumnya diberitakan, pemerintah meminta harga tes PCR turun menjadi Rp 300.000. Seiring turunnya harga tes, pembuat kebijakan akan menerapkan tes PCR tidak hanya untuk transportasi udara, namun seluruh moda transportasi.

 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, hal ini untuk mencegah kenaikan angka kasus Covid-19 terutama jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Alasan kewajiban penggunaan tes PCR bagi calon penumpang transportasi pesawat, yakni untuk menyeimbangkan relaksasi yang dilakukan pada aktivitas masyarakat, terutama pada sektor pariwisata.

Meski kasus Covid-19 secara nasional sudah menurun, pemerintah belajar dari pengalaman negara lain untuk tetap memperkuat 3T (testing, tracing, treatment) dan 3M supaya kasus tidak kembali meningkat, terutama menghadapi periode libur Natal dan Tahun Baru. (ta/red)