Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Desaku Maju tahun 2025 sekaligus menyusun strategi penguatan hilirisasi desa untuk tahun 2026. Langkah ini dilakukan guna memastikan program berjalan sesuai target serta mampu memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
Evaluasi dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, dalam rapat yang berlangsung di Ruang Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung. Dalam arahannya, Jihan menegaskan bahwa evaluasi menjadi bagian penting untuk menjaga agar setiap program tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan (on the track) dan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Lampung Tahun 2025–2029 serta didukung oleh Peraturan Gubernur Lampung Nomor 52 Tahun 2025.
Menurut Jihan, setiap perangkat daerah perlu memiliki pembagian tugas yang jelas sebagai leading sector sehingga target dan keluaran program dapat tercapai secara optimal. Koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan Program Desaku Maju.
Program Desaku Maju berfokus pada dua pilar utama, yaitu penyediaan Pupuk Organik Cair (POC) dan penguatan hilirisasi melalui pemanfaatan mesin pengering hasil panen (bed dryer). Sepanjang tahun 2025, distribusi POC telah menjangkau sekitar 500 titik sawah dan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas hasil panen petani. Sementara itu, sebanyak 34 unit bed dryer telah didistribusikan dan ditargetkan meningkat menjadi 82 unit pada tahun 2026.
Hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat sejumlah kendala dalam pengoperasian bed dryer, di antaranya keterbatasan manajemen usaha serta permasalahan teknis seperti kerusakan dinamo. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung akan melakukan pemantauan terhadap operasional mesin berbasis data (evidence-based policy) sekaligus mengintegrasikan pembiayaan melalui Dana Desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Di sisi lain, program penyediaan Pupuk Organik Cair yang sebelumnya masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar kini diarahkan agar petani mampu memproduksi pupuk secara mandiri melalui pendampingan sekolah lapang. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian petani sekaligus memperkuat keberlanjutan program.
Penguatan Program Desaku Maju juga didukung melalui pelatihan vokasi ketenagakerjaan. Pada tahun 2025, pelatihan tersebut telah menjangkau 928 penduduk usia produktif. Memasuki tahun 2026, program akan difokuskan kepada 528 peserta yang tersebar di 33 desa. Para peserta tidak hanya dibekali keterampilan kerja, tetapi juga dipersiapkan untuk mendukung operasional ekosistem desa, seperti menjadi operator mesin maupun tenaga teknis.
Keberhasilan penerapan program telah terlihat di Desa Wonomarto, Kabupaten Lampung Utara, yang mampu mengembangkan hilirisasi hasil panen hingga menghasilkan inovasi berupa pakan ternak. Berbekal capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung mengusulkan penambahan 10 desa sebagai proyek percontohan (pilot project) pada tahun 2026, di antaranya Desa Negara Ratu di Kecamatan Natar, Desa Bumi Restu di Kecamatan Palas, dan Desa Gedung Boga di Kecamatan Way Serdang.
Melalui evaluasi dan penyempurnaan strategi tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berharap Program Desaku Maju mampu memperkuat hilirisasi sektor pertanian, meningkatkan nilai tambah produk desa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.